Adat Istiadat Jawa

11.21 edit

Adat Istiadat Jawa

    Adat istiadat Jawa adalah tata kelakuan yang kekal dan turun-

temurun dari generasi satu ke generasi lain sebagai warisan sehingga kuat

integrasinya dengan pola perilaku masyarakat. Definisi adat istiadat jawa

ini menurut kamus besar bahasa indonesia. 

    Masyarakat Jawa hidup dalam lingkungan adat istiadat jawa  yang

sangat kental dan sudah mendarah daging. Masih sering kita jumpai digunakan

dalam berbagai kegiatan masyarakat. Sejak masih dalam kandungan ibunya

sampai setelah meninggal dan dikebumikan. Jumlah populasi terbesar di

Indonesia berdasarkan asal sukunya adalah masyarakat suku Jawa. Jumlahnya

mencapai hampir separo dari total jumlah populasi masyarakat yang menetap

di Indonesia. Suku Jawa berasal dari 3 propinsi di pulau jawa yakni

Propinsi Jawa Tengah, propinsi Jawa Timur dan propinsi Daerah Istimewa

Yogyakarta. Semua sendi kehidupan masyarakat suku Jawa tidak pernah lepas

dari adat istiadat Jawa yang memang sudah sangat dipercayai sejak zaman

nenek moyang. 

 Adat Istiadat Jawa Masa dalam Kandungan Ibunya

     Saat seorang perempuan Jawa mengandung dan usia kandungannya sudah

mencapai empat bulan sudah mulai dilakukan prosesi ritual adat istiadat

jawa berupa selamatan, ritual berikutnya pada masa kehamilan memasuki bulan

ketujuh mereka akan melakukan semacam ritual selamatan atau yang sudah

jamak dikenal di masyarakat dengan sebutan mitoni. Salah satu ritual dalam

prosesi selamatan mitoni yang dilakukan oleh perempuan jawa yang hamil

tersebut adalah tingkeban. Pada ritual ini, perempuan yang tengah

mengandung dimandikan menggunakan dengan air yang dicampur dengan bunga.

Bahkan ada juga yang meyakini bahwa pakemnya adat istiadat jawa airnya dari

tujuh sumber dan bunganya tujuh rupa. Kain yang digunakan sebagai kemben

pun jumlahnya harus tujuh dan dipakai secara bergantian saat acara

tingkeban berlangsung.


 Adat Istiadat Jawa saat Prosesi Upacara Pernikahan

      Adat istiadat Jawa juga sudah jamak kita dapati dalam pelaksanaan

prosesi upacara pernikahan. Masyarakat Jawa percaya akan adanya hari yang

baik untuk melaksanakan pernikahan. Hari baik tersebut biasanya,

dihitungkan oleh musyawarah keluarga besar masing-masing mempelai yang

dipimpin oleh sesepuh atau yang dituakan yang berpatokan pada buku primbon

Jawa. Pra prosesi acara pernikahan berlangsung, biasanya sebulan

sebelumnya, calon mempelai pengantin suku Jawa tidak diperbolehkan untuk

saling bertemu. Khusus calon mempelai perempuan, biasanya, yang sudah lazim

berlaku pada adat istiadat jawa melalui prosesi ritual dipingit. Ritual

pingitan ini ditujukan untuk mempersiapkan lahiriyah dan batiniyah bagi

calon mempelai pengantin perempuan yang akan memasuki jenjang pernikahan.

Sehari sebelum prosesi acara pernikahan, calon mempelai pengantin perempuan

kembali melakukan ritual. Kali ini, ritualnya biasa disebut dengan siraman.

Pada prosesi ritual  siraman, air yang digunakan untuk melakukan prosesi

siraman tersebut dalam adat istiadat jawa diambil dari tujuh sumber mata

air sebagaimana disyaratkan dalam prosesi ritual mitoni bagi perempuan yang

sedang hamil dan sudah dicampur dengan bermacam-macam bunga. Kemudian,

malam harinya, dilaksanakan prosesi ritual midodareni.
Ritual ini biasanya

juga menjadi acara pertemuan sebelum pernikahan antara kedua keluarga calon

mempelai pengantin. Saat acara pernikahan berlangsung, ritual adat istiadat

Jawa yang dilakukan lebih banyak lagi dan semacam beragam. Mulai

disyaratkannya prosesi menuju pelaminan dipimpin oleh seorang cucuk lampah,

saling melempar sirih, saling menyiratkan beras kuning, hingga ritual

membasuh kaki mempelai pengantin pria oleh mempelai pengantin perempuannya.


 Adat Istiadat Jawa saat Upacara Kematian

     Pada waktu ada anggota masyarakat suku Jawa yang meninggal, ritual

adat istiadat jawa pun tidak lepas mengiringi. Ritual brobosan adalah yang

biasa dilakukan dan masih sering kita temui, berupa proses perbuatan dari

kerabat dekat anggota masyarakat suku jawa yang meninggal melintasi secara

bergantian di bawah mayat yang sudah ditandu dengan cara berjongkok.

Ritual adat istiadat jawa pun belum selesai hingga di situ. Setahun pertama setelah meninggal, biasanya, pihak keluarga yang ditinggalkan akan mengadakan selamatan mulai satu harinya berturut-turut sampai tujuh
harinya, dilanjutkan dengan ritual selamatan empatpuluh hari,  seratus hari
dan pendak siji adalah masa satu tahun setelah hari meninggalnya, pendak
loro adalah masa dua tahun setelah hari meninggalnya, hingga pendak telu atau
biasanya diselenggarakan bersamaan dengan nyewu yakni selamatan yang
dilakukan di tahun ketiga atau pada seribu harinya.

Produk Lainnya

Tarif Pajak

TarifPajak.com -

Situs Jual Beli Online Terbesar di Bojonegoro, Jual mobil, motor bekas perumahan tanah sampai batik bojonegoro.